Showing posts with label AGAMA. Show all posts
Showing posts with label AGAMA. Show all posts

Wednesday, 7 March 2012

MAAAAAAAALU



Perhatian : artikel ini mempunyai beberapa perkataan/slang bahasa Indonesia.
(buat2  paham la mane yg x paham tu  +_^  )
Muslimahzone.com - Hampir diseluruh dunia sepakat bahwa wanita selalu menjadi ikon tunggal kecantikan dengan akumulatif apresiasinya terhadap wajah serta tubuh yang indah. Apresiasi ini mungkin tidak salah, karena secara fitrah wanita hadir dengan sosok yang lembut dan indah. Dari sosok seperti inilah maka sepantasnya muslimah menghiasi dirinya dengan rasa malu. Mengapa harus Malu?
Rasa malu adalah sifat yang mulia. Rasa malu, seluruhnya adalah kebaikan. Rasulullah SAW merupakan profil yang menjadi panutan dan tauladan dalam perihal rasa malu. Bahkan sampai disebutkan bahwa beliau lebih pemalu dari gadis pingitan yang berada dalam kamarnya. Rasa malu adalah akhlak yang mulia, akhlak yang dimiliki oleh orang-orang yang baik. Setiap orang yang memiliki rasa malu niscaya akan tercegah dari perkara-perkara yang buruk dan jelek yang dimurka oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya serta dibenci oleh manusia.
Rasa malu itu sendiri terbagi dua (berdasarkan cara terbentuknya,, yaitu :
Ada rasa malu yang menjadi sifat pembawaan atau tabiat yang merupakan karunia dan pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini diistilahkan dengan rasa malu yang tidak diupayakan. Bisa jadi ada sebagian orang yang meninggalkan perkara-perkara yang buruk dan jelek bukan karena dia paham dan komitmen kepada agamanya. Akan tetapi lebih disebabkan rasa malu untuk melakukannya. Sehingga dia meninggalkannya bukan karena dorongan agama tapi disebabkan faktor rasa malu yang memang Allah ciptakan pada dirinya. Tabiat ini merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dilimpahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah maha memiliki keutamaan yang besar.
Pada zaman ini kita masih banyak melihat para muslimah yang masih menghadirkan rasa malu untuk tidak berbuat maksiat, mengumbar aurat, suara atau gerak tubuhnya di depan khalayak yang tak pantas melihat dan mendengarnya. Muslimah seperti inilah yang Allah hadirikan didalam dirinya rasa malu sebagai Rahmat dari-Nya.
Rasa malu yang kedua adalah rasa malu yang bisa diupayakan (dibentuk dengan usaha khusus, red). Maksudnya adalah rasa malu yang lahir karena seseorang selalu merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu bisa tewujud karena mengenal dzat Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat Nya yang Maha Mulia dan Agung. Dia malu kalau Allah melihatnya berbuat keburukan dan kejelekan. Maka dia berupaya menghindari perkara-perkara yang buruk dan jelek disebabkan rasa malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun secara tabi’at dan watak, dia bisa dan mungkin biasa melakukan keburukan dan kejelekan tersebut. Ini namanya rasa malu yang diupayakan dan yang dimaksud oleh sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam:
“Rasa malu itu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Muslimah yang berilmu akan menghiasi dirinya dengan malu kapan dan dimanapun ia berada, dengan Ilmu yang ia mampu mengolah hatinya agar tidak terperosok dalam syubhat-syubhat serta godaan-godaan yang dapat menghilangkan dirinya dengan rasa malu, lisannya senatiasa terjada dengan tutur kata berkualitas serta Dzikrullah dan Malu tetap menghiasinya. Serta tingkahnya yang menunjukkan ketakwaannya kepada Rabbnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam– sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma- pernah melewati seseorang dari kalangan anshar yang tengah menasihati saudaranya mengenai rasa malu. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
“Biarkan dia, karena sesungguhnya rasa malu itu termasuk dari keimanan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Rasa Malu Yang Baik

Rasa malu yang termasuk dari keimanan adalah rasa malu yang diupayakan karena merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa pun keadaannya, seorang yang punya rasa malu secara tabiat dan kepribadian, memiliki modal dasar untuk menuju rasa malu yang diupayakan karena merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika rasa malu itu dicabut dari seseorang, baik rasa malu secara tabiat dan kepribadian maupun rasa malu yang memang disyari’atkan, maka akan lenyap berbagai kebaikan dari dirinya. Dia akan jatuh pada perbuatan-perbuatan yang buruk dan jelek, baik secara hukum syar’i maupun secara adat kebiasaan manusia. Hari ini kita sangat mudah menyaksikan saudari-saudari muslimah kita yang tampak enteng dengan hiasan kemaksiatan yang dilakukan tanpa adanya rasa malu sediktpun.

Rasa Malu Yang Buruk

Namun disana sesungguhnya ada rasa malu yang tercela. Rasa malu yang tercela –sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Qodhi ‘Iyadh rahimahullah dan yang selainnya- yaitu rasa malu yang menghalangi seseorang untuk menunaikan hak dan kewajiban. Seseorang merasa malu dalam menuntut ilmu sehingga dia mengalami kebodohan dalam agamanya. Seseorang merasa malu untuk beribadah kepada Allah sehingga dia tidak menunaikan kewajibannya terhadap Allah. Seseorang merasa malu untuk menunaikan hak dirinya, hak keluarganya, hak kaum muslimin. Maka semua rasa malu itu adalah rasa malu yang tercela. Karena rasa malu yang seperti ini merupakan kelemahan dan kecerobohan. (lihat Fathul Baari 3/138). Maka sebagai Muslimah yang cerdas, hendaknya kita menghindari diri dari rasa malu yang tidak menguntungkan bagi kualitas ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Sedangkan yang dimaksud dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Rasa malu itu tidak membawa kecuali kepada kebaikan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
yaitu rasa malu yang membawa kepada keimanan serta tidak melalaikan hak dan kewajiban. Lalu mengapa rasa malu yang menghalangi seseorang dari kebaikan disebut sebagai rasa malu? Hal itu karena rasa malu ini menyerupai rasa malu yang yang disyari’atkan. Padahal hakekatnya, rasa malu yang menghalangi dari kebaikan adalah tercela di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Manfaat Rasa Malu

Maka muslimah yang mempunyai rasa malu akan terhalangi dari perkara-perkara yang buruk dan jelek, baik rasa malu yang berlaku secara tabi’at maupun rasa malu yang lahir karena keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kita mau memperhatikan kondisi dan keadaan manusia secara cermat, niscaya kita akan mendapati realita bahwa berbagai keburukan dan kejelekan terjadi, baik yang berupa kekafiran, kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan, baik yang kecil maupun yang besar, dikarenakan mereka telah kekurangan bahkan kehilangan rasa malu yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Jika rasa malu dengan kedua jenisnya telah hilang dari seseorang maka tak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan darinya. Bahkan bisa jadi dirinya telah berubah menjadi syaithan yang terkutuk.
Kita memohon kepada Allah keselamatan dan keampunan dan menjadikan diri kita sebagai Muslimah yang cantik dengan rasa Malu. Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi :
“Kemulian Rasa Malu”, Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani.

Thursday, 1 March 2012

Semua Agama Benar?


Semua Agama Benar?



Baru-baru ini aku didatangi satu ide baru tentang agama, hasil daripada kupasan ide dan perbincangan panjang yang berlangsung di tepi CIMB Bangsar sambil menghirup teh dan menikmati roti naan keju di Restoran Mahbub, yang aku gelarkan Restoran Mere Mehbubu Mere Sanam.

Membaca tajuk tulisan ini, pasti ada yang mengelak daripada terus membacanya, khuatir akan terpesong aqidah barangkali. Aku ingatkan awal-awal, jika mahu mula membaca, pastikan habis dan faham. Tapi aku yakin tiada akan terbabas kerana kalau ada kekeliruan, Tanyalah Ustaz? Jangan tanya aku.

Teman aku memetik ayat Quran yang menyatakan bahawa syarat masuk syurga adalah percaya kepada Allah dan berbuat baik. Dirumuskan ketika itu bahawa mana-mana manusia yang percaya kepada Allah(Tuhan) dan berbuat baik, maka diterima masuk ke syurga, tanpa mengira beza nama agamanya, kerana yang berbeza itu namanya, sedangkan pengisiannya sama, yakni percaya kepada Tuhan dan berbuat baik. Lalu semuanya masuk syurga, tak kira walaupun Hindu, Buddha, Kristian, Yahudi dan Islam.

Maka hujah balas kepada tafsiran tadi itu adalah ayat Quran yang berbunyi, Sesungguhnya agama yang diredhai Allah hanyalah Islam. (3:19)

Ayat Quran ini ditafsirkan pula dengan menyatakan bahawa perkataan Islam yang digunapakai oleh masyarakat ketika ayat itu diturunkan, membawakan maksud tunduk menyerah kepada Tuhan, bukan sebagai satu nama khas bagi agama Islam. Jika tafsiran ini diterima, makanya segala bentuk agama adalah agama yang diredhai Allah. Jika semua agama itu diredhai Allah, maka mengapa perlu kita mengajak penganut agama lain memeluk agama Islam? Dan apa perlu penganut agama lain mengajak kita memeluk agama mereka? Bukan begitu? Inilah tafsiran agama yang aku dengari ketika itu iaitu semua penganut agama masuk syurga dan semua agama diredhai Allah.

Pemikiran ini menghantui benak pemikiran aku selama 2 hari. Aku pening dengan pemikiran begini dan kalau diikutkan rasa bingung ini, mahu saja aku tolak mentah-mentah ide itu tanpa mencari hujah balasnya.

Lalu menelusuri persoalan ini, aku kembali kepada soalan pokok kepada perbincangan tadi iaitu maksud sebenar Islam. Dalam perbincangan tadi, aku diberikan tafsiran baru tentang Islam dan agama. Jadi aku soal semula, apa maksud Islam? Islam yang aku biasa dengar bermaksud sejahtera. Tapi maksud sejahtera ini masih belum menjawab.

Hari berlalu, hari ini aku teringatkan Hadis Rasulullah S.A.W., hadis ke-2 dalam Hadis 40 himpunan Imam Nawawi yang menceritakan secara terang tentang maksud Islam. Cakap betulnya, aku tak hafal hadis, cuma ada terbaca Hadis 40 yang dihadiahkan Hanif sempena cenderahati perkahwinannya, lalu aku rujuk hadis ini yang mana diriwayatkan oleh Saidina Umar R.A,

"Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah S.A.W., satu hari ketika itu datang seorang lelaki yang mana bajunya sangat putih dan rambutnya sangat hitam dan pakaiannya tiada tanda musafir tapi tiada antara kami yang mengenalinya. Lelaki itu duduk di hadapan Nabi, lutut bertemu dengan lutut dan meletakkan tangannya di peha Nabi, dan bertanya dia kepada Rasulullah S.A.W, Ya Muhammad, akhbirni 'anil Islam. Wahai Muhammad beritahu aku pasal Islam. Maka Rasulullah jawab, Islam adalah kamu bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu Rasulullah, kamu dirikan solat, kamu tunaikan zakat, kamu berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan Haji kalau kamu mampu. Lalu lelaki itu berkata, betul cakap kamu."

Maka, dirumuskan yang Islam itu adalah mengucap 2 kalimah SYAHADAH, SOLAT, bayar ZAKAT, PUASA di bulan Ramadhan dan HAJI bagi yang mampu. Bukan kah ini Rukun Islam yang aku pelajari masa kecil-kecil dulu dengan Ustaz Rafie & Ustaz Rohan, dengan menggunakan buku KAFA? Mudah kan? Inilah Rukun Islam dan aku belajar semula mengenainya dan menikmatinya pada umur 28 tahun.

Hadis ke-2 ini cukup mencerahkan persoalan yang membingungkan tadi. Aku faham apa itu Islam dan aku rasakan nikmat Quran & Sunnah. Aku mengucap syukur ke hadrat Allah S.W.T dan selawat salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad S.A.W. atas limpah kurnia dan hidayat yang dicurahkan juga sirah Baginda S.A.W. Aku harapkan teman aku tadi, juga mendapat pemahaman yang serupa, mungkin dengan perjalanan sendiri atau di lain kali, saat kami bertemu lagi.

Balik kepada tajuk semua agama adalah benar? Ya, semua agama benar jika rukunnya, mengucapkan 2 kalimah SYAHADAH, menunaikan SOLAT, membayar ZAKAT, berPUASA di bulan Ramadhan dan melaksanakan HAJI bagi yang mampu. Nyatanya, agama yang begitu hanyalah satu.


إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ
Sesungguhnya agama (yang diredhai) disisi Allah hanyalah Islam (3:19)

PENDIDIKAN



Pendidikan amat penting bagi sesebuah negara.. Berikut adalah senarai 10 negara yang diiktiraf mempunyai rakyat paling berpendidikan di seluruh dunia. Laporan oleh OECD-Organisation for Economic Co-operation and Development, “Better Policies For Better Lives”.
1. Kanada
Separuh atau 50% warga Kanada berkelulusan universiti. Satu rekod yang sangat tinggi berbanding Malaysia yang hanya 15% berkelulusan universiti. Bahasa pengantar utama pendidikan di Kanada adalah Bahasa Inggeris dan Perancis. Wilayah Quebec dan New Brunswick menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa ilmu dari peringkat tadika hingga universiti.
2. Israel
Israel negara ‘Facebook’ dengan 45% warganya berkelulusan universiti. Bahasa pengantar utama adalah bahasa Hebrew. Pelajar juga diwajibkan lulus bahasa Inggeris dan Arab.
3. Jepun
Sekitar 44% warga Jepun berkelulusan universiti dan Jepun begitu menghormati bahasanya. Jepun hanya menggunakan bahasa Jepun sebagai bahasa pengantar dari peringkat tadika hingga ke universiti. Namun pelajar digalakkan belajar bahasa asing seperti Korea, Cina, Inggeris, Jerman dan Russia.
4. Amerika Syarikat
Seramai 41% warga Amerika berkelulusan universiti. Bahasa pengantar utama adalah bahasa Inggeris. Namun ada sekolah di Amerika khususnya di negeri selatan seperti New Mexico, Florida, Arizona dan Texas menggunakan bahasa Sepanyol sebagai bahasa pengantar.
5. New Zealand
Lebih 40% warga New Zealand berkelulusan universiti. Bahasa Inggeris adalah bahasa pengantar utama.
6. Korea Selatan
Negara kereta Hyundai dan KIA ini memiliki 39% warganya berpendidikan universiti. Sepert juga Jepun, Korea Selatan hanya menggunakan bahasa Korea sebagai bahasa pengantar utama di sekolah hingga ke universiti. Pelajar digalakkan menguasai bahasa asing seperti Inggeris, Cina, Russia, Jepun dan sebagainya.
7. Norway
Lebih 37% warga Norway berpendidikan tinggi. Norway juga menggunakan bahasa Norway sebagai bahasa pengantar tunggal di sekolah hingga universiti. Pelajar diwajibkan lulus sekurang-kurangnya satu bahasa asing.
8. United Kingdom
United Kingdom dengan 37% warganya berpendidikan tinggi. Bahasa utama semestinya bahasa Inggeris. Di Scotland dan Wales, ada usaha menjadikan bahasa Scottish dan Welsh sebagai bahasa pengantar utama di sekolah dan universiti terutama selepas Scotland dan Wales mendapat kuasa autonomi ekoran daripada “Devolution of British Parliament”.
9. Australia
Benua terkecil Australia dengan 37% warganya berpendidikan tinggi dan bahasa utama adalah bahasa Inggeris. Australia juga dipuji kerana pada masa sekarang Australia adalah negara yang menjadi tumpuan pelajar antarabangsa.
10. Finland
Lebih 37% warga Finland berpendidikan universiti dan negara Finland hanya menggunakan bahasa Finland sebagai bahasa pengantar utama di sekolah hingga universiti.
Kita hargai negara yang menggunakan bahasa ibunda sendiri. Namun di Malaysia setelah 54 tahun masih terhegeh-hegeh dengan dasar bahasanya. Dunia pendidikan lagi ketinggalanlah berbanding dengan senarai di atas.
Semasa berbual dengan seorang guru Bahasa Inggeris sebuah sekolah di Taiping, dia berkata, “Kini mengajar English di sekolah, ‘hanya mengajar mereka supaya lulus’ dan bukannya mengajar mereka untuk menguasai bahasa”. “Dulu, sempat juga menyanyi sebagai kaedah mengajar, kini dah tak sempat!!”, katanya lagi yang dah 27 tahun mengajar English.

RESORT TAHFIZ



Idea yang menarik dan mempunyai kelainan dari pemiliknya Mohd. Zainuri Mohd. Idrus yang membuka pusat tahfiz di kawasan resort.Maahad Tahfiz AnNuri yang berada di lokasi resort ladang Syamille Agro Farm & Resort, terletak di Kampung Chuar Hulu dekat pekan Kati, Kuala Kangsar, Perak.
Sekolah tahfiz dibuka kira-kira enam bulan lalu. Pelajar yang ditempatkan di sini berusia di antara 10 hingga 20 tahun. Jadual mereka bermula bermula pukul 5 pagi setiap hari. Selepas solat sunat tahajud dan diikuti sembahyang Subuh, barulah rutin pembelajaran dilakukan sehingga pukul 9 malam.
Mereka akan menghafaz 30 juzuk Al Quran, belajar agama dan didedahkan dengan kurikulum pendidikan yang sama seperti di sekolah biasa. Mereka mengikut sistem tahfiz Turki di mana pelajar boleh memilih surah yang ingin dihafaz tanpa mengikut urutan. Ini berbeza dengan kebanyak sekolah tahfiz di malaysia yang menggunakan sistem Pakistan dan Bangladesh di mana pelajar perlu hafal daripada surah pertama sehingga akhir secara berturutan.
Lebih menarik lagi ia adalah percuma. Perbelanjaan pembelajaran mereka diperolehi daripada aktiviti dijalan pusat tahfiz dengan menternak rusa(27), kambing (836) dan lembu betina (23 ekor). Ia turut mengusahakan ternakan ikan tilapia, keli, ayam kampung dan itik selain dusun buah-buahan. Pelajar juga mempelajari aktiviti berkenaan di hujung minggu mereka.
Bukan hanya sekolah tahfiz, di sini terdapat lima buah resort untuk kegunaan keluarga, sebuah vila, sepuluh bilik resort dan empat bilik asrama di kawasan seluas empat hektar.

ORANG KOREA PUN MINAT TULISAN JAWI...KITA?



KETIKA budaya K-pop popular dan diminati kalangan generasi muda negara ini, seorang ahli akademik Korea Selatan pula mengakui beliau menyukai tulisan jawi.

Penulis berpeluang menemu bual Prof Dr Kang Kyoung Seok dari Busan University of Foreign Studies, yang memberikan pandangannya mengenai tulisan jawi dan budaya Melayu.

Dr Kang, 57, yang fasih berbahasa Melayu, begitu meminati semua perkara mengenai tulisan jawi, yang disifatkannya begitu indah.

“Budaya Melayu ini, daripada lagunya, bahasanya, semua amat halus dan lembut membuatkan saya jatuh cinta terutama lenggok tulisan jawi,” kata Dr Kang.

Cinta Kepada Tulisan Jawi

Cinta Dr Kang kepada tulisan jawi berputik pada tahun 1974 ketika belajar di sebuah Universiti di Korea Selatan.

“Pensyarah saya masa itu beritahu bahawa Malaysia memiliki tulisan unik diberi nama tulisan jawi. Bila saya tanya apa itu tulisan jawi, pensyarah saya tidak tahu. Di Korea masa itu, tiada buku tulisan jawi, rujukan mengenai jawi pula amat kurang. Namun itu tidak mematahkan semangat saya untuk terus mengkaji tulisan ini,” katanya.

Pada 1982, pertemuan Dr Kang dengan seorang pendakwah Islam bernama Abdul Ghani yang berasal dari Pattani, Thailand di Busan, merupakan titik penting percintaannya dengan tulisan jawi.

Melalui Abdul Ghani, Dr Kang mengenali huruf jawi dan sistem penulisan ini. Buku tulisan jawi bertajuk ‘Sejarah Melayu Pattani’, menjadi kegemarannya pada masa itu.

Dr Kang membulatkan tekadnya untuk pergi ke Malaysia bagi mendalami tulisan jawi dan pada tahun 1984 impiannya menjadi kenyataan apabila mendapat tawaran melanjutkan pengajian di Universiti Malaya.

Namun persepsi rakyat Korea Selatan terhadap Malaysia pada masa itu menjadi cabaran besar bagi Dr Kang dalam merealisasikan impiannya.

“Masa itu Korea Selatan tidak mengenali Malaysia seperti sekarang. Kita sekarang kawan baik. Dulu orang Korea tengok Malaysia sebuah negara yang mundur, miskin dan banyak masalah.

“Ibu bapa saya masa itu menangis tidak mahu benarkan saya pergi Malaysia, tetapi saya sudah cintakan tulisan jawi dan saya mahu pergi belajar tulisan itu di Malaysia,” katanya.

Setelah melakukan kajian terhadap tulisan jawi sejak sekian lama, Dr Kang mengakui amat tertarik dengan kitab Al-Quran yang disifatkanya sebagai anugerah paling bernilai buat umat Islam di seluruh dunia.

“Paling menarik perhatian saya bagaimana tulisan jawi dalam kitab Al-Quran mampu menghasilkan cara bacaan yang amat indah sekali. Saya selalu dengar orang baca di tilawah Al-Quran, amat indah dan buat jiwa saya tenteram,” katanya.

Jawi, Penyambung Legasi Bangsa

Dr Kang berkata generasi muda Malaysia sekarang tidak menyedari betapa bertuahnya mereka memiliki sebuah warisan unik yang menjadi identiti dan penyambung legasi bangsa.

“Tulisan jawi sekarang sudah tenat, tidak ramai generasi muda tahu membaca dan menulis jawi. Bilangan pakar jawi juga semakin berkurangan kerana ramai pakar yang saya kenali telah bersara tanpa ada pengganti,” katanya.

Dr Kang menyertai Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) sebagai pensyarah pada 2010.

“UPSI sebuah universiti yang mendidik guru. Jadi bila saya ajar guru ini tulisan jawi, mereka akan ajar tulisan jawi ini kepada anak murid mereka, yang juga generasi muda negara ini. Maka semakin ramai tahu tulisan jawi,” katanya.

Beliau berkata pelbagai langkah perlu diambil oleh pihak berkuasa pendidikan supaya kembali kepada sistem ejaan jawi Za’ba yang lebih ringkas dan mudah difahami.

Media memainkan peranan penting dalam memastikan tulisan jawi digunakan secara lebih meluas. Dr Kang berharap akhbar yang menggunakan bahasa jawi seperti Utusan Melayu diberi nafas baru untuk menarik minat rakyat Malaysia.

Selain itu, pihak terlibat seperti Institut Terjemahan Negara Malaysia dan Dewan Bahasa dan Pustaka perlu memainkan peranan dalam menterjemah lebih banyak buku ke tulisan jawi.

Malaysia ‘Cikgu’ Saya

Mengimbau kenangan Dr Kang semasa pertama kali menjejakkan kaki di bumi bertuah ini, Dr Kang menyedari persepsi rakyat Korea terhadap Malaysia meleset sama sekali.

“Keluar lapangan terbang saya lihat kemajuan Malaysia di sana sini, bangunan tinggi. Macam-macam jenis kereta saya jumpa, kereta mewah seperti BMW dan Mercedes pun ada,” katanya.

Selain itu, beliau turut tertarik kepada keunikan masyarakat berbilang kaum di Malaysia yang hidup aman damai dan bekerjasama dengan baik bagi memajukan negara.

“Masa saya datang ke Malaysia, saya amat tertarik dengan konsep ini kerana masa itu Korea tidak banyak campuran bangsa di sana. Bila dunia semakin berubah, sekarang ramai bangsa lain datang ke Korea.

“Jadi Korea belajar untuk sesuaikan diri dengan pelbagai bangsa ini, tetapi Malaysia sudah lama belajar tentang ini dan saya belajar dengan Malaysia,” katanya.

Dr Kang turut tertarik dengan percampuran budaya antara kaum di negara ini, mewujudkan sebuah masyarakat yang mempunyai identiti tersendiri seperti masyarakat baba nyonya di Melaka.

Beliau berkata masyarakat berbilang kaum ini membuatkan Malaysia menjadi sebuah negara yang kaya dengan pelbagai kesenian dan kebudayaan yang diwarisi sejak berkurun lamanya.

“Apa yang menarik perhatian saya bagaimana budaya Melayu boleh berada di tengah-tengah dan menjadi pengikat semua budaya ini. Budaya Melayu ini amat istimewa, memang ramai pengkaji asing yang sukakanya termasuk saya,” katanya.

Dr Kang berpesan kepada generasi muda Malaysia: “Bagus jika kita memahami budaya lain dan tidak salah meminati K-pop. Tetapi jangan kita terlalu taksub hingga budaya dan identiti sendiri dipinggir dan dilupakan,” katanya.